Wbfc: Klub Papua Yang Dibangun Dengan Visi, Karakter, Dan Pendidikan
Waanal Brothers FC (WBFC) mungkin masih terbilang muda dalam peta sepak bola nasional. Namun di balik usia klub yang baru seumur jagung, tersimpan cerita besar tentang mimpi, pengorbanan, pendidikan, dan tekad untuk mengangkat talenta muda Papua ke level tertinggi sepak bola Indonesia.
Klub asal Kabupaten Mimika, Papua Tengah ini didirikan oleh empat bersaudara: Ray, Joe, Jason, dan Randy Manurung. Four Brothers — begitu mereka dikenal — lahir dan besar di Tembagapura, Mimika, dari keluarga sederhana yang dibesarkan dalam nilai pelayanan. Kedua orang tua mereka merupakan pendeta GPdI Kalvari di SP 3 Timika.
Berbekal kecintaan terhadap sepak bola dan kepedulian terhadap masa depan anak-anak Papua, Four Brothers membangun WBFC bukan sekadar sebagai klub, tetapi sebagai wadah pembentukan karakter dan masa depan pemain muda.
Kerja keras itu mulai membuahkan hasil saat WBFC sukses menjadi juara Liga 3 Zona Papua 2023. Gelar tersebut membawa WBFC mewakili Papua di putaran nasional Liga 3 pada April 2024 bersama Persipani Paniai.
Namun bagi Four Brothers, pencapaian itu baru permulaan.
Target mereka jauh lebih besar: membawa WBFC menembus Liga 2 hingga suatu hari tampil di Liga 1 Indonesia.
Berawal dari Timnas Pelajar di Portugal
Cikal bakal WBFC sebenarnya dimulai pada 2018. Saat itu, Ray Manurung dipercaya Kemenpora menjadi manajer Timnas Pelajar U-15 Indonesia yang tampil di turnamen internasional bergengsi IBER Cup Portugal.
Di luar dugaan, Timnas Pelajar Indonesia berhasil finis di posisi ketiga setelah bersaing melawan tim-tim kuat Eropa. Prestasi itu menjadi kebanggaan tersendiri karena IBER Cup dikenal sebagai salah satu turnamen usia muda terbesar di dunia. Bahkan megabintang sepak bola dunia Cristiano Ronaldo pernah tampil dalam ajang tersebut.
Tim muda Indonesia saat itu dilatih mantan pemain Timnas Indonesia, Aples Tecuari.
Sepulang dari Portugal, para pemain kembali ke daerah masing-masing. Namun Four Brothers melihat potensi besar yang dimiliki anak-anak tersebut. Mereka merasa bakat-bakat muda itu tidak boleh berhenti berkembang hanya karena keterbatasan fasilitas dan kompetisi.
Dari situlah ide mendirikan WBFC lahir.
Pada 2019, Four Brothers mulai menghubungi orang tua para pemain Timnas Pelajar untuk meminta izin agar anak-anak mereka bergabung dalam klub baru bernama Waanal Brothers FC.
Bandung Jadi Tempat Menempa Mimpi
Four Brothers sadar Timika belum memiliki fasilitas dan atmosfer kompetitif yang cukup untuk mengembangkan pemain muda. Karena itu, Bandung dipilih sebagai tempat pembinaan utama WBFC.
Di Kota Kembang, para pemain muda Papua ditempa sejak usia belasan tahun. Mereka tidak hanya berlatih sepak bola, tetapi juga belajar hidup mandiri, disiplin, dan bersaing di lingkungan yang lebih kompetitif.
Nama-nama seperti Mikhael Tata, Adriano Manuri, Roben Pulanda, Marcello Buara, Ricky Youwe, Desman Wakerwa, hingga Dony Yoku menjadi bagian generasi awal WBFC. Mereka kemudian bergabung dengan pemain dari berbagai daerah lain seperti Makassar, Bengkulu, Ternate, Aceh, hingga Jawa Barat.
WBFC tumbuh sebagai klub dengan semangat Bhineka Tunggal Ika — menyatukan pemain dari berbagai daerah dengan satu tujuan yang sama.
Menikmati Proses, Bukan Instan
WBFC pertama kali tampil di Liga 3 Papua pada 2022 di bawah pelatih Rochi Putiray. Saat itu manajemen tidak menargetkan gelar juara.
Fokus utama mereka adalah proses.
Dengan rata-rata usia pemain baru 18 hingga 19 tahun, WBFC tetap mampu finis di posisi ketiga Liga 3 Papua. Hasil itu menjadi fondasi penting bagi perkembangan tim.
Sepulang dari Papua, para pemain kembali ditempa lebih keras di Bandung. Manajemen kemudian menunjuk Sahala Saragih sebagai pelatih baru untuk membangun tim yang lebih kompetitif pada musim 2023.
Keputusan itu terbukti tepat.
Kombinasi pemain muda dan senior membuat WBFC tampil sangat solid. Nama-nama senior seperti Wahyu, Dwi, Sofian, Bubu, Gaus, Gofur, Dimas, dan Lana menjadi mentor penting bagi pemain muda Papua.
Hasilnya luar biasa.
WBFC menjuarai Liga 3 Zona Papua 2023 tanpa tersentuh kekalahan dalam sembilan pertandingan.
Para pemain muda seperti Adriano, Martin, Marcello, Cosmas, Andriansyah, Adriel, hingga Desman tampil berani dan memberikan kontribusi penting lewat assist maupun gol.
Atmosfer persaingan sehat dan kekeluargaan menjadi kekuatan utama WBFC.
Bukan Sekadar Sepak Bola
WBFC juga mulai melahirkan pemain-pemain yang menembus level lebih tinggi. Mikhael Tata kini berkarier di Liga 1 bersama Persebaya setelah sebelumnya bermain untuk Arema FC.
Sementara Tabernacle berhasil lolos seleksi dari ratusan peserta dan kini masuk tim utama St. Mary’s University Chelsea Foundation di Inggris sambil menempuh pendidikan sport management.
Hal itu menunjukkan WBFC tidak hanya fokus mencetak pemain sepak bola, tetapi juga masa depan pemain di luar lapangan.
Semua pemain WBFC diarahkan untuk tetap melanjutkan pendidikan formal. Bahkan biaya pendidikan mereka ditanggung melalui beasiswa klub.
WBFC juga membangun akademi usia muda U-11 dan U-14. Tim U-14 bahkan direncanakan kembali tampil di IBER Cup Portugal tahun depan.
WBFC mungkin belum berada di Liga 1. Namun klub ini sudah memiliki sesuatu yang lebih penting: fondasi, visi, dan identitas yang kuat.
Di tengah sepak bola modern yang semakin berorientasi bisnis, WBFC hadir dengan semangat berbeda — membangun manusia, karakter, dan harapan bagi anak-anak Papua dan Indonesia.
Perjalanan mereka masih panjang. Namun dari Mimika hingga Bandung, dari Portugal hingga Liga 3 Papua, WBFC telah membuktikan satu hal:
mimpi besar selalu punya tempat untuk tumbuh.